Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1939 Di Seririt - UAS
Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1939 Di Seririt
Buleleng - Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap beliau. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti transportasi umum, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia / microcosmos) dan Buwana Agung (alam semesta / macrocosmos).
( ISO : 200 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1/600 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Pada foto diatas telihat betapa sunyinya saat Hari Raya Nyepi berlangsung, pekarangan rumah dan jalanan tidak luput dari kata sepi (sunyi) dari yang biasanya tempat berlalu-lalang dan melakukan aktivitas lainnya. Pada saat pelaksanaan Hari Raya Nyepi masyarakat biasanya menyibukkan diri dengan melaksanakan kewajiban atau aturan yang dilakukan, seperti misalnya melakukan catur brata penyepian yang meliputi : (1) Brata amati gni yaitu tidak
menyalakan api selama hari Nyepi, dimana api yang dimaksudkan disini adalah
sifat-sifat kroda manusia, seperti amarah. Brata amati geni disimbolkan dengan
pemadaman lampu selama hari Nyepi. Hal ini patut ditaati dan dilestarikan
sepanjang masa, namun tetap harus ada kebijaksanaan seperti adanya umat sakit,
bayi atau yang berumur tua renta. Sedangkan penyalaan api untuk kepentingan
pelaksanaan upacara pada Hari Raya Nyepi tetap boleh sampai batas sebelum
matahari terbit. (2) Brata amati lelanguan yaitu brata
ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh melaksanakan kegiatan
yang berfoya-foya atau bersenang-senang. Hiburan selain membantu untuk
menghilangkan kejenuhan secara tidak sadar akan membuat menjadi lupa diri dan
terjerumus. Bila mampu umat sebaiknya melaksanakan puasa. (3) Brata amati lelungan yaitu brata
ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh berpergian melainkan
harus tetap diam di rumah. Ini untuk melatih pikiran kita agar tidak senantiasa
liar tetapi selalu ingat ke dalam sebagai instropeksi diri. (4) Brata amati karya yaitu brata
ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh melakukan pekerjaan,
namun bukan berarti sama sekali tidak berkegiatan. Kegiatan yang tidak boleh
dilakukan adalah kegiatan yang bersifat judi yang harus dinetralisir dengan
pengendalian pikiran.
( ISO : 200 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1/604 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Pada saat menjelang nyepi, masyarakat pada umumnya melakukan kegiatan mekiyis atau melasti dimana sebelum
Nyepi, umat Hindu melakukan penyucian dengan melakukan upacara tersebut dengan membawa segala sarana persembahyangan
yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena laut atau
danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh
(kotor) di dalam diri manusia dan alam. foto di atas menunjukkan betapa antusiasnya masyarakat desa Lokapaksa yang berbondong-bondong berjalan ke pantai untuk melakukan upacara mekiyis atau melasti.
( ISO : 200 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1/600 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Sesampainya di pantai masyarakat duduk mencari tempat yang nyaman untuk melakukan persembahyangan dengan khusuk secara bersama-sama. Suasana kekeluargaan sangat dirasakan oleh masyarakat desa Lokapaksa mengingat kegiatan seperti ini hanya dapat dilakukan beberapa kali dalam setahun salah satunya menjelang Hari Raya Nyepi. Persembahyangan bersama ini dipimpin oleh seorang pemangku yang duduk di depan sambil melakukan nganteb banten.
( ISO : 50 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1/1224 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Namun, tidak hanya di desa Lokapaksa saja. Acara mekiyis atau melasti juga dilakukan pada hari yang sama oleh masyarakat desa Bubunan, desa Sulanyah, dan desa Pengastulan yang tergabung menjadi satu. Masyarakat sangat antusias mengikuti acara tersebut, terlebih ke-empat desa tergabung menjadi satu sehingga jumlahnya mencapai ratusan orang mencerminkan kerukukan dan keakraban bagi masyarakat itu sendiri.
( ISO : 50 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 363 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Sebelum menuju pantai, masyarakat yang mengikuti upacara mekiyis atau melasti terlebih dahulu tangkil ke pura desa Pengastulan yang terletak 100 meter dari pantai Pengastulan, di pura desa ini masyarakat secara bersama-sama melakukan persembahyangan untuk memohon keselamatan dan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa, pralina-pralina yang dibawa untuk di tangkilkan juga dibawa masuk ke dalam area pura. Tidak hanya masyarakat umum yang mengikuti upacara ini, terlihat ada beberapa wisatawan asing yang telah "memeluk" agama Hindu juga ikut melaksanakan upacara mekiyis atau melasti ini. Pura desa Pengastulan biasanya digunakan oleh masyarakat yang beragama Hindu sebagai tempat persembahyangan umum setiap harinya.
( ISO : 50 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 570 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Setelah mekakukan persembahyangan bersama di Pura desa Pengastulan, masyarakat yang terdiri dari tiga desa tersebut kembali melakukan perjalanan menuju pantai desa Pengastulan. Terlihat sesampainya di pantai desa Pengastulan ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) yang membawa pralina menempatkannya disebuah meja beton besar tempat menempatkan banten untuk di upacarai sebagai sebuah simbul suci untuk agama Hindu.
( ISO : 50 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 128 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Tidak hanya pralina saja yang terlihat dibawa oleh masyarakat pada saat upacara, namun beberapa payung dan senjata Dewata yaitu tombak yang merupakan sebuah simbul salah satu sejata Dewata Nawasanga, di pantai Pengastulan ini masyarakat yang terdiri dari tiga desa melakukan persembahyangan bersama dengan memanjatkan doa meminta keselamatan dan anugra Tuhan sebagai pencipta yang menciptakan alam semesta ini. Sarana yang dipakai pada umumnya berupa banten yang sudah dipersiapkan oleh masing-masing desa dan ada pula yang membawa secara individu. Namun tidak ada aturan secara khusus yang membahas tentang kewajiban untuk membawa banten sebagai sarana persembahyangan individu, banyak masyarakat yang masih menggunakan canang sari karena dilihat dari segi praktis dan ekonomis.
( ISO : 80 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 33 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Sehari menjelang Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu di Bali menlaksanakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak dulu dan dilaksanakan secara turun temurun yaitu pembuatan sebuah patung raksasa dan diarak keliling desa atau sesuai jalur tertentu. Patung raksasa yang terbuat dari anyaman bambu dan koran bekas dihiasi berbagai warna tesebut disebut ogoh-ogoh oleh masyarakat sekitar. Ogoh-ogoh tersebut memiliki simbul atau melambangkan bhuta kala yang sering mengganggu kehidupan manusia setiap harinya.
( ISO : 64 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 100 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Bentuk dari ogoh-ogoh ini sangat beragam, dumulai dari berbentuk raksasa, raksasa berkepala babi dan berbagai bentuk lainnya. pada foto diatas telihat bentuk dari ogoh-ogoh menyerupai raksasa yang berkepala babi sebagai simbul dari bhuta kala yang harus dihilangkan atau diusir agar tidak mengganggu kegiatan yang dilakukan oleh manusia.
( ISO : 50 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 33 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Namun, tidak jarang terlihat ada pula yang membuat bentuk ogoh-ogoh yang melambangkan peperangan antara Dewata dengan Bhuta kala yang dimenangkan oleh dewata, sering kali bentuk-bentuk dari ogoh-ogoh ini ketika mengambil bentuk Dewata pada umumnya bersumber dari ceritra pewayangan yang diangkan dan disimbulkan kemenangan Dewata atau Dharma untuk menyampaikan pesan kepada masyarkat umum bahwa Dharma (kebaikan) akan selalu menang dari Adharma (kejahatan).
( ISO : 100 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 33 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Sebelum mengarak ogoh-ogoh , masyarakat di Bali pada umumnya melakukan pecaruan untuk meminta keselamatan dan kelancaran pada saat mengarak ogoh-ogoh keliling desa atau sesuai dengan rute tertentu. Upacara pecaruan ini pada umumnya menggunakan banten yang sudah disiapkan oleh masing-masing desa, pada umumnya di masyarakat pada saat melakukan upacara pecaruan ogoh-ogoh yang akan diarak dikumpulkan menjadi satu untuk upacarai, hal ini tidak diatur secara khusus melainkan untuk mengefesiensikan waktu dan biaya yang digunakan.
( ISO : 100 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 33 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Pelaksanaan upacara pecaruan ini dipuput atau di pimpin oleh seorang Ida Rsi Agung dari Griya Taman Sari Patemon, hal ini dimaknai oleh masyarakat sekitar sebagai sebuah kebanggaan karena adaya partisipasi dari Pemimpin Agama atau Tokoh Agama yang ikut melaksanakan upacara pecaruan untuk meminta keselamatan. terlihat betapa khusuknya Beliau memimpin atau memuput upacara ini dengan tulus iklas.
( ISO : 50 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 104 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Menurut Beliau melaksanakan upacara ini merupakan bagian dari yadnya yaitu sebuah korban suci yang dilakukan dengan tulus iklas sebagai "pemeluk" agama Hindu, seperti yang dikutip pada saat melakukan wawacara Beliau mengatakan "Ida Rsi tidak memandang upacara ini sebagai beban, namun upacara ini merupakan salah satu tugas yang harus dilaksanakan dan harus dimaknai dengan tulus iklas karena merupakan bagian dari yadnya" kata Ida Rsi Agung.
( ISO : 50 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 /658 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Setelah selesai di upacarai pecaruan, masyarakat secara beramai-ramai mengarak ogoh-ogoh keliling desa atau menuju rute tertentu dan berakhir di kuburan atau istilah kuburan dalam bahasa Bali yaitu seme sebagai tempat terakhir untuk pengarakan dan dibakar sebagai simbul menghilangkan keburukan. Pada saat pengarakan masyarakat biasanya menyertainya dengan sebuah musik atau gamelan dalam ada-istiadat Bali yang sering digunakan sejak jaman dulu.
( ISO : 100 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 /108 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Pengarakan ogoh-ogoh keliling desa atau sesuai dengan rute tertentu selain diringi dengan musik atau gamelan tradisi Bali juga dimeriahkan dengan adanya pementasan seni drama tari yang berjudul "Rahwana Mlaibang Sita", dimana cerita ini diangkat dari sebuah cerita pewayangan Ramayana yang sudah terkenal di masyarakat. Diceritakan Sita merupakan gadis cantik yang sangat diidam-idamkan oleh Rahwana, sedangkan Sita tidak menyukai Rahwana karena kesombongan dan kejahatannya sehingga Rahwana memberanikan diri untuk menculik Sita, namun akhir cerita dari drama tari ini di akhiri dengan kalahnya Rahwana dalam perebutan Sita. Pementasan drama tari ini mengundang decak kagum dari masyarakat yang menyaksikan karena pemeran atau tokoh yang memerankan sangat menguasai atau memaknai tokoh yang dilakoni. "dramanya sangat menarik, dan juga sangat bagus. saya salut dengan anak muda desa yang memiliki bakat seperti itu dan mau untuk berpartisipasi" kata prebekel Desa Lokapaksa Wayan Ariadi yang menyaksikan langsung pementasan drama tari tersebut.
( ISO : 200 Shutter Speed : f / 2,2 Apature : 1 / 293 Kamera : Samsung note 3 / 13 MP )
Satu hari setelah nyepi, aktivitas masyarakat kembali normal. Motor mulai berlalu-lalang dipagi hari dan masyarakat melakukan kegiatan rutinitas sehari-hari. pada saat nyepi dilakukan penutupan jalan 24 jam penuh, mulai dari jam 00.00 malam sebelum nyepi sampai dengan jam 00.00 malam saat pergatian hari. Nyepi dari tahun ke tahun selalu menghadirikan kesan dan perubahan yang berbeda di kalangan masyarakat. Namun, yang paling penting dari perayaan Hari Raya Nyepi yaitu tidak menghilangkan makna dari hari tersebut. Banyak tokoh agama yang sudah mulai memberikan pencerahan-pencerahan kepada masyarakat terkait makna dari Hari Raya Nyepi agar masyarakat dapat melaksanakan tanggungjawabnya sebagai umat yang "memeluk" agama Hindu. Ari_purnaya (01/06/2017)


mungkin bisa ditambahin juga ilustrasi tentang catur brata penyepiannya kalau sempat rik
BalasHapus